JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi salah satu inisiatif penting pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menekankan bahwa MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa makanan bergizi, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
“Program makanan bergizi gratis ini memiliki manfaat besar bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sehingga harus diterima secara utuh oleh para penerima manfaat sesuai standar yang telah ditetapkan,” ujar Lucy.
MBG menargetkan seluruh warga yang membutuhkan, termasuk anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, dengan tujuan menekan angka stunting, malnutrisi, serta masalah kesehatan akibat pola makan yang tidak seimbang.
Program ini dirancang agar makanan yang diberikan memenuhi standar gizi nasional sehingga setiap penerima benar-benar memperoleh manfaat optimal.
MBG Tingkatkan Ekonomi Lokal Lewat UMKM dan Petani
Selain fokus pada pemenuhan gizi, MBG memiliki efek ekonomi yang signifikan. Program ini melibatkan pelaku UMKM, peternak, dan petani lokal sebagai penyedia bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan memanfaatkan pasokan lokal, MBG turut memperkuat ekonomi daerah di sekitarnya.
Lucy menjelaskan, “Selain berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, Program MBG juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi di sekitar lokasi SPPG melalui pelibatan pelaku UMKM, peternakan, dan pertanian sebagai penyedia bahan pangan.”
Pendekatan ini menciptakan efek berganda (multiplier effect), di mana setiap rupiah yang digunakan untuk membeli bahan baku dari pelaku lokal akan kembali berputar di komunitas setempat. Model ini memungkinkan UMKM dan petani lokal mendapatkan pangsa pasar yang stabil dan mendukung keberlanjutan usaha mereka.
Standar Gizi dan Pengelolaan MBG
Program MBG dijalankan dengan sistem manajemen yang jelas. Setiap SPPG memiliki kepala unit, tenaga akuntansi, dan ahli gizi, yang memastikan bahwa makanan yang disediakan aman, bergizi, dan tepat sasaran. Proses ini juga meminimalkan penyalahgunaan dana atau bahan pangan yang tidak sesuai standar.
Lucy menambahkan, “Dalam pengelolaannya terdapat kepala SPPG, tenaga akuntansi, dan ahli gizi yang bertugas memastikan kualitas makanan serta tata kelola berjalan dengan baik. Di Kota Surabaya, angka stunting terus mengalami penurunan hingga menunjukkan bahwa komposisi dan pemerataan gizi semakin membaik.”
Dengan pengelolaan profesional seperti ini, MBG tidak hanya menjadi distribusi makanan, tetapi juga program terstruktur yang mengedepankan aspek kesehatan, edukasi gizi, dan keberlanjutan ekonomi lokal.
Peran Masyarakat dalam Mengawasi MBG
Keberhasilan MBG tidak lepas dari keterlibatan masyarakat. Lucy mendorong masyarakat untuk ikut mengawasi pelaksanaan program agar manfaat gizi dan ekonomi bisa dirasakan secara maksimal. Partisipasi warga juga penting untuk memastikan bahan baku lokal digunakan, kualitas makanan sesuai standar, serta program tepat sasaran.
“Program ini akan berjalan optimal jika masyarakat turut mengawasi pelaksanaannya, memastikan bahan baku lokal digunakan, dan kualitas makanan sesuai standar,” jelas Lucy.
Keterlibatan warga membantu meminimalkan penyimpangan, meningkatkan transparansi, dan memperkuat dampak ekonomi bagi UMKM, petani, dan peternak. Dengan sistem pengawasan partisipatif, program MBG dapat berfungsi sebagai model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
MBG Sebagai Bagian dari Asta Cita Presiden
MBG merupakan bagian dari delapan misi Asta Cita yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Program ini menekankan penguatan sumber daya manusia, pembangunan dari desa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui MBG, pemerintah ingin mengintegrasikan program sosial dan ekonomi lokal: memperkuat ekosistem UMKM, memberdayakan petani dan peternak, serta memastikan setiap warga mendapatkan gizi yang layak. Pendekatan ini menciptakan sinergi antara kesehatan, ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Lucy menegaskan bahwa MBG bukan sekadar bantuan makanan, tetapi strategi pembangunan berkelanjutan: “Program MBG memiliki manfaat ganda, tidak hanya bagi kesehatan masyarakat tetapi juga bagi penguatan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dan petani setempat.”
Dengan struktur manajemen yang baik, pengawasan masyarakat, dan keterlibatan UMKM serta petani, MBG diharapkan menjadi program model nasional yang berkelanjutan, bermanfaat jangka panjang bagi kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.